Essay Bebas
Kita mungkin sering bertanya pada diri sendiri khusunya, tentang profil masa depan kita. Akan seperti apakah masa depan kita, pertanyaan ini muncul karena misteri masa depan kadang benar-benar menghantui setiap manusia berakal, lebih-lebih mereka yang akalnya setingkat Genius! Bagi masyarakat tradisional, terkadang mengungkap masa depan dengan menggunakan cara-cara “mati akal” (tidak masuk akal), seperti datang ke paranormal atau orang-orang tertentu yang dikabarkan memiliki kemampuan melihat masa depan. Bagi masyarakat modern masa depan bukan lagi disebut misteri, tetapi disebut sebagai tantangan kehidupan. Masa yang akan datang menantang siapa saja untuk berani menggelutinya, berani menaklukannya dan berani untuk membedah dan mengoperasinya selayak ibu hamil yang harus dioperasi untuk mengeluarkan sang jabang bayi.
Lantas seperti apa sebenarnya gambaran yang mendekati akal sehat tentang masa depan ini? Saya tentu tidak akan mendominasi jawaban, karena mendominasi jawaban adalah sama dengan melihat penduduk bumi ini hanya saya, memposisikan saya sebagai raja tunggal di muka bumi ini….tentu saya tidak berani, atau lebih tepatnya sungkan kata orang jawa, sungkan bukan karena saya menerapkan ilmu tawadlu’ yang banyak diajarkan di pesantren dan majlis-majlis ta’lim, karena tawadlu’ akan terjadi jika mutawadlu’ (orang yang tawadlu’) memiliki keilmuan yang sebenarnya pantas untuk ditonjolkan tapi tidak mau menonjolkan.. kalau saya, sungkan karena memang kurang ilmu dan pengetahuan,….toh ilmu sungkan di masyarakat jawa tidak ada syarat harus berilmu.
Kita tidak akan membahas ilmu sungkan yang kadang nyungkani… tapi kita akan membahas tentang masa depan. Diakui atau tidak kita selalu punya angan-angan akan seperti apa masa depan kita, meskipun kadang ketika ditanya tentang angan dan cita masa depan kita tidak bisa menjelaskannya. Pernah ada dua orang bersahabat karib selalu melalui hidupnya bersama-sama, mulai kecil hingga dewasa, bahkan sekolahpun sama dan nilai setiap pelajaran selalu sama tapi mereka tidak saling contek seperti gejala kesamaan nilai zaman ini. Melihat kepintaran mereka dan prestasi selama mengikuti pendidikan, apalagi keahlian mereka juga sama maka banyak yang memprediksi bahwa keduanya akan sama-sama sukses. Memang bukan tanpa alasan masyarakat memprediksi seperti itu. Beberapa tahun kemudian ketika mereka sudah berumur 45 tahun, mereka sama-sama ketemu di kampong halamannya, tentu masyarakat sudah penasaran bagaimana keadaan mereka saat ini. Hal yang tidak disangka-sangka ternyata terjadi, Pria pertama pulang dengan membawa mobil Mercy terbaru dan keluarga yang bahagia juga diajak serta, sedangkan pria kedua pulang kampong sendirian dan tidak membawa bekal apa-apa, masyarakat jadi bertanya-tanya gerakan apa yang terjadi pada pria kedua, ternyata pria kedua selama beberapa tahun belakang menjadi pengedar narkoba kelas dunia hingga akhirnya dia ditangkap polisi dan dipenjjara puluhan tahun, sekarang dia sadar dan ingin memulai kehidapan barunya kembali…. Memulai disaat sahabatnya sudah menikmati hasil dari kerja kerasnya. Masyarakat lagi-lagi dibuat bengong, prediksi mereka gagal total.
Lantas apa yang bisa dijelaskan dari fenomena ini? Dua orang yang sama-sama berprestasi tinggi dan pintar ternyata punya masa depan yang berbeda…. Apa masalahnya disini? Jangan bilang itu sudah nasib mereka, karena kalo berbicara masalah nasib sebenarnya harus dibahas lumayan panjang, ada dalil naqli dan aqli yang harus digunakan, tidak sekedar sudah takdir ya sudah….
Ada dua hal yang ingin saya ungkap disini: Pertama, setiap manusia punya mind set (pola pikir), inilah yang akan mempengaruhi pandangan kita terhadap informasi yang kita terima, artinya mind set merupakan tanah tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman informasi. Contoh sederhana, jika kita membahas takdir/nasib, maka intepretasi akan diberikan oleh pola fakir kita…. Apakah interpretasinya sederhana, ataukah interpretasinya rumit. Menurut Kang Sigit Gunawan, Pola pikir kita ini akan mempengaruhi karakter, kebiasan (habits), perilaku dan sikap kita. Pola pikir ini sangat dipengaruhi oleh sistim kepercayaan atau sistim nilai yang kita miliki, nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Karena itu kita harus memastikan agar pola pikir kita hanya dibentuk dan dipengaruhi dengan nilai-nilai yang baik dan benar. Apa yang terjadi dengan dua pria yang saya ceritakan diatas, adalah karena keduanya memiliki mindset yang berbeda, pria pertama menumbuh suburkan mindset yang positif sehingga dalam kondisi hancur dan berantakanpun dia tetap meiliki pola fakir yang positif, dan mindset positive inilah salah satu yang mengalirkan energi positif bagi dirinya. Berbeda dengan pria kedua, meskipun dia sejatinya seorang yang pintar, tapi mindset yang dipatrikan di fikiran adalah mindset negative, sehingga ini juga yang mengalirkan energi negative di dirinya. Dalam Agama Islam ada perintah khusus agar umat manusia ini sering melakukan tafakkur dan tadabbur, ini tidak lain adalah upaya untuk memupuk mindset positif kemudian juga dihukumi fardlu ain untuk belajar sepanjang hayat (minna mahdi ila lahdi), ini adalah upaya-upaya strategis membangun pola fakir positif. Membangun pola fikir positif adalah salah satu ikhtiar merintis masa depan yang berkualitas, artinya dalam posisi dan keadaan bagaimanapun masa depan kita, akan kita hadapi secara positif. Bahkan dengan pola fikir positif itu turut akan menjadi jalan menuju masa depan yang baik.
Hal kedua yang turut mempengaruhi masa depan adalah bagaimana kita bersikap keHadirat Allah Swt, Tuhan yang telah mensakralkan waktu dengan ayatnya “Demi Masa”. Sebagai manusia beragama, tentu kita meyakini bahwa hidup kita bukan hanya otoritas kita tapi juga merupakan intervensi Tuhan. Lo kok ada orang yang dekat dengan Tuhan tapi hidupnya miskin? Lantas apakah tidak ada orang yang jauh dari Tuhan hidupnya tidak miskin? Banyak yang miskin juga…… pola fikirnya tidak seperti itu, Masa depan itu tidak hanya urusan kaya-miskin. Tapi yang terpenting adalah menghadapi masa depannya masa depan harus sudah siap…. Dan persiapan terbaik adalah menjadi kuli Tuhan.
Allahu Akbar! Ijinkan Aku menjadi kuli-Mu.
M.Nur K. Amrullah
Jakarta, 13 Mei 2009




Komentar Terakhir