BUKAN LOGIKA SYUKUR BIASA

29 04 2009

Banyak yang mengatakan bahwa hidup ini adalah fase-fase pendek yang sederhana, tapi untuk memahaminya kadang dibutuhkan energi yang rumit dan jauh dari kata sederhana. Contoh saja, bagaimana kita pernah menghayati ilmu syukur dalam hidup kita. Mungkin memang sering sekali kata syukur menjadi melodi rutin di telinga kita, tapi tidak sedikit diantara kita yang kerap tidak puas diri dan mencari kambing kurap untuk dipersalahkan dari akibat yang terjadi dalam hidup kita.

Syukur sebenarnya sangat sederhana, merasa cukup dan berterima kasih atas apapun yang kita miliki dan yang tidak kita miliki. Memang yang paling mudah adalah bersyukur atas apa yang kita miliki, karena logikanya gampang saja mengingat persentuhan dengan apa yang kita memiliki terasa lebih nyata dan mudah diekspresikan dibandingkan mensyukuri sesuatu yang kita tidak punya karena cenderung abstrak dan membutuhkan tidak sekedar logika.

Mungkin anda pernah mendengar bagaimana seorang guru yang sedang memberi kuis kepada murid-muridnya tentang keajaiban dunia. Umumnya yang dijawab adalah tempat-tempat yang selama ini dianggap istimewa yang tercantum dalam buku-buku pelajaran semisal menara miring, tembok cina, kakbah, tidak lagi termasuk borobudur yang digusur dari daftar tujuh keajaiban dunia. Tapi jawaban yang sering kita anggap aneh adalah apabila murid atau kita menjawab keajaiban dunia adalah rasa kasih sayang, keluarga yang bahagia, sifat ikhlas dan sabar, rasa saling memiliki, rasa simpati atas penderitaan sesama dan sebagainya. Jawaban kedua akan jauh lebih sulit dicerna karena cenderung abstrak dan tidak umum, padahal itu jawaban super dari sebuah pertanyaan keajaiban dunia. Begitu pula dengan rasa syukur terhadap apa yang kita tidak miliki, relative abstrak dan tidak biasa.

Coba kita fikirkan dengan segenap rasa, adakah rasa iri hati jika objek yang kita irikan telah kita syukuri. Kita tidak punya mobil sebagai kendaraan keluarga tapi kita mampu bersyukur atas ketidak punyaan itu, kemudian suatu saat tetangga kita mampu membeli mobil mewah pas seperti yang kita bayangkan secara sembunyi-sembunyi. Mengingat kita telah menanamkan rasa syukur terhadap mobil mewah meskipun kita tidak memiliki, maka melihatnya tampak nyata di mata kita, disebelah rumah kita bukan lagi merupakan kecemburan dan iri hati yang muncul, justru yang akan muncul adalah semakin berkembangnya rasa syukur. Rumah kita yang dulu jauh dari mobil mewah, sekarang dengan gratis dan tanpa biaya disandingi mobil mewah, bayangkan jika kita memilikinya sekarang kemudian nilai pajaknya melebihi biaya makan seluruh keluarga kita.

Sesungguhnya orang-orang yang bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah, maka janji Allah adalah memberinya ulang dengan nilai yang jauh lebih besar………

M.Nur K Amrullah
Senin, 27 April 2009 jam 16.00 pm








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.