SPIRIT HUMANISASI Vs DISKRIMINASI

20 07 2010

Oleh : M. Nur K. Amrullah

“Saya memanusiakan manusia, maka saya manusia”

Falsafah kemanusiaan yang penulis paparkan diatas, memang secara harfiah mudah untuk difahami, akan tetapi hal terpenting adalah ikhtiar melakukan kontemplasi bahwa kewajiban dasar manusia disamping memiliki loyalitas kepada Tuhan, disisi yang lain adalah kewajiban memanusiakan manusia.

Banyaknya aksi kekerasan perwujud diskriminasi di negeri ini sebenarnya akar masalahnya adalah falsafah yang dipegang masyarakat menunjukkan anti humanisasi (baca Dehumanisasi), lahirnya kekerasan antar etnik dan golongan sementara didasarkan pada ego kolektif yang bertujuan mempertahankan diri dan sekaligus mengunggulkan diri. Perspektif ego kolektif inilah yang kemudian menenggalamkan spirit humanisasi yang seharusnya dimiliki setiap manusia tanpa membedakan golongan, ras ataupun agama.

Penulis tidak akan memaparkan contoh-contoh diskriminasi di negeri ini, bukan karena banyaknya, ataupun karena desubstansi, tapi lebih karena aksi diskriminasi di masyarakat kita seperti sego-jangan dalam menu makan sehari-hari. Tapi penulis akan mengajak berselancar untuk menemukan formula yang tepat guna membangun hubungan antar golongan yang anti diskriminasi.

Akan tetapi hal yang perlu untuk disepakati terlebih dahulu adalah, bahwa kita tidak akan melakukan amputasi social, artinya tidak langsung berharap diskriminasi akan langsung hilang dalam sekejap, karena bagaimanapun spirit humanisasi bukanlah sulapan dan bim salabim langsung jadi. Tapi implementasi humanisasi disini akan dilakukan secara gradual dengan mempertimbangkan strategi prioritas.

Ada beberapa formula yang menurut penulis bisa digunakan untuk membangun hubungan antar golongan yang anti diskriminasi: pertama dan utama adalah menanamkan falsafah “Saya memanusikan manusia, maka saya manusia” pada seluruh masyarakat, jadi nafas perlakukan kepada sesama manusia adalah seperti memperlakukan dirinya sendiri sebagai manusia, sehingga bagi mereka yang tidak memanusiakan manusia berarti bukan manusia secara hakiki, tapi sekedar manusia jasmani. Formula yang pertama ini adalah ruh yang mampu menjadi supra spirit humanisasi.

Pertanyaan besar terkait ejawantahkan falsafah kemanusiaan diatas adalah, mampukan kita melakukan penanaman nilai-nilai untuk memperlakukan manusia secara manusiawi kepada masyarakat yang multi etnik, multi perspektif, multi disiplin dan multi pendidikan? Apabila disini tidak ada komitmen total, maka bisa diramalkan akan terjadi kegagalan pada pembangunan spirit humanisasi di masyarakat, dan konsekwensinya adalah mengguritanya aksi hubungan yang diskriminatif di banyak sector dan factor. Kunci pertama komitmen ini terletak pada tokoh-tokoh masyarakat serta dukungan kebijakan pemerintah.

Formula kedua yang turut memberi kontribusi terbangunnya spirit humanisasi saat ini adalah, kita harus melakukan revolusi tata-nilai, berani membongkar aturan dan adat yang jelas-jelas mendukung aksi diskriminasi dan menggantikannya dengan aturan yang dijiwai ruh humanisasi. Hemat penulis, dari ratusan bahkan ribuan aturan adat di nusantara ini, beberapa diantaranya mengajarkan aksi diskriminasi, cuman keberanian untuk jujur dan mengatakannya adalah hal yang sangat sulit. Mari secara nasional kita lakukan analisis terhadap segala aturan adat yang ada, dengan pelibatan unsur-unsur adat itu sendiri.

Apabila dua formula diatas secara gradual diterapkan dengan tetap melihat analisis proporsi, maka secara bertahap akan terbangun semangat humanisasi di bumi nusantara ini yang tidak sekedar sementara tapi pola hubungan humanisasi yang permanent dan stabil. Minimal masyarakat akan memiliki wacana pefalsafahan baru, dimana saat aksi diskriminasi dilakukan yang berarti “Saya tidak memanusiakan manusia, maka saya bukan manusia”.





MENGGAGAS PENDIDIKAN TRANSGRESIF

20 07 2010

Oleh: M.Nur K. Amrullah

Awal mula proses pendidikan di dunia ini diawali dari kebutuhan hidup manusia, untuk terus mencari jati diri sebagai manusia yang unggul dibandingkan makhluk lain. Maka tak heran jika banyak filosofi kehidupan dan teks-teks suci selalu menobatkan manusia sebagai makhluk paling sempurna, maka misi menjadi makhluk sempurna-terbatas ini harus menjadi tidak sekedar pengakuan dan keakuan, tapi harus bisa diwujudkan sebagai sebuah sistem nyata yang bisa bekerja untuk pembuktian dan proses pewujudan manusia sebagai makhluk paling sempurna. Mungkin kita sering mendengar bahwa tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah memanusiakan manusia, artinya ada potensi manusia bisa menjadi bukan manusia yang harus ditangkal oleh pendidikan.

Selama ini sudah banyak berkembang teori pendidikan, untuk menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak pernah berhenti melakukan inovasi dan melakukan penggalian khasanah potensi positif pada manusia, tapi sayangnya tidak banyak diantara para pendidik yang berani melakukan proses kreatif dengan cara membongkar dan mendiagnosis praktik-praktik tradisional dalam proses pendidikan, ini sering terjadi di sekolah-sekolah formal. Pendidik cenderung menjadikan proses pendidikan dan pembelajaran sebagai kegiatan rutin yang acap kali tak memiliki toleransi terhadap minat dan bakat siswa. Siswa diperlakukan seperti pasien yang harus tunduk dan patuh dalam asupan dosis belajar yang telah dibuat pendidik, maka tak mengherankan jika dikemudian hari siswa-siswa kita hanya pintar menggunakan otak dan memainkan bahasa, tapi lemah integrasi sikap social dan tanggung jawabnya.

Pendidikan Transgresif, Bagaimana Memulainya?

Transgresif adalah adopsi dari kata transgress yang berarti proses yang melewati batas-batas logika dan aturan yang mengangkang, sedangkan Pendidikan Transgresif yang penulis maksud adalah upaya untuk melakukan pendesainan ulang (redesign) terhadap pendidikan agar mampu menjawab tantangan kehidupan yang semakin sulit diprediksi, menanamkan nilai-nilai anti stagnasi dan pada akhirnya akan mewujudkan manusia pendidikan yang mampu menjadi manusia pionir.

bersambung………………….





Penerimaan Calon Mahasiswa Baru STPN 2010/2011

20 07 2010

Program Dilpoma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral (DI-PPK) membuka penerimaan Calon Mahasiswa Baru untuk tahun akademik 2010-2011. Penerimaan calon mahasiswa baru Program Diploma I ini diharapkan dapat menjaring calon-calon Asisten Surveyor Berlisensi yang berkualitas. Pendaftaran dimulai tanggal 20 Juli 2010 sampai dengan tanggal 13 Agustus 2010, secara online melalui website www.stpn.ac.id.

Panduan Pengisian Formulir Aplikasi Penerimaan Calon Mahasiswa Baru

Pengumuman pmb d1_2010-2011 online

Saran: Mendaftarlah saat trafic agak sepi… (seperti tengah malam, pagi hari) supaya terhindar error..








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.